Manajemen Konflik Dalam Gereja Mula-Mula: Tafsir Kisah Para Rasul 2:41-47
DOI:
https://doi.org/10.46445/ejti.v3i1.114Keywords:
Management, Conflict, Community, Solidarity, CommunicationAbstract
Frans Paillin Rumbi, Conflict Management in The Early Church: Interpretation of the Acts 2:41-47. The main question put forward in this study is that in the early church there was no conflict? On that basis, the writer tries to find answers by using library research methods with the reader response interpretation approach. The result seems to be that the congregation was originally formed in the midst of conflict. Furthermore, in the early days they were confronted with internal and external conflicts. Internal conflicts include inner conflicts related to their waiting for the Kingdom of God and inner conflicts of individualistic and materialistic. The choice between prioritizing one's own welfare or having to share with others. To overcome the various conflicts that arise, they try to process it by first consistently building alliances on the basis of the work of the Holy Spirit. Furthermore, they developed a lifestyle based on the spirit of repentance and desire to renew the way of life, practicing the teachings of the Lord Jesus and the Apostles by promoting solidarity with others and controlling individualistic and materialist attitudes, building intensive communication in order to create mutual understanding and mutual understanding.
Â
Frans Paillin Rumbi, Manajemen Konflik Dalam Gereja Mula-mula: Tafsir Kisah Para Rasul 2:41-47. Pertanyaan utama yang diajukan dalam penelitian ini adalah benarkah dalam jemaat mula-mula tidak ada konflik? Atas dasar itu, maka penulis mencoba mencari jawab dengan mengunakan metode penelitian pustaka dengan pendekatan tafsir reader response. Hasilnya tampak bahwa jemaat mula-mula terbentuk di tengah-tengah konflik. Selanjutnya pada masa-masa awal mereka telah diperhadapkan dengan konflik baik internal maupun ekstenal. Konflik internal antara lain berupa konflik batin berkaitan penantian mereka atas Kerajaan Allah serta konflik batin berupa individualistis dan materialistik. Pilihan antara mementingkan kesejahteraan sendiri atau harus berbagi dengan orang lain. Untuk mengatasi berbagai konflik yang muncul, mereka berusaha mengolahnya dengan pertama-tama konsisten membangun persekutuan di atas landasan karya Roh Kudus. Selanjutnya mereka mengembangkan pola hidup yang dilandasi semangat pertobatan dan keinginan memperbaharui cara hidup, mempraktekkan pengajaran Tuhan Yesus dan para Rasul dengan mengedepankan solidaritas kepada sesama serta mengendalikan sikap individualitik dan materialis, membangun komunikasi yang intensif agar tercipta kesehatian atau saling pengertian satu sama lain.
References
Barlett, David L. 2007. Pelayanan Dalam Perjanjian Baru. Terjemahan Liem Sien Kie dan Josafat Kristono. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Borg, M.J. 2000. Kali Pertama Jumpa Yesus Kembali: Yesus Sejarah dan Hakikat Iman Kristen Masa Kini. Terjemahan Ioanes Rakhmat. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Campbell, T. 1994. Tujuh Teori Sosial: Sketsa, Penilaian, Perbandingan, terjemahan F. Budi Hardiman. Yogyakarta: Kanisius.
Colpe, C. 1993. “The Oldest Jewish-Christian Com-munity†dalam Jürgen Becker (ed)., Chris-tian Beginnings; Word and Community From Jesus To Post-Apostolic Times. Louisville-Kentucky: Westminster/Jhon Knox Press.
Craig, C.T. 1943.The Beginning of Christianity. Nashvilee-New York: Abingdon Press.
Heyer, C.J. Den. 1997. Perjamuan Tuhan: Studi Mengenai Paskah dan Perjamuan Kudus Bertolak dari Penafsiran dan Teologi Alkitabiah. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Guthrie, D. 2012. Teologi Perjanjian Baru 3: Eklesiologi, Eskatologi, Etika. Terjemahan Lisda Tirtapradja Gamadhi. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Mandaru, H. F. 2007. “Kaya-Miskin dalam Lukas-Kisah: Beberapa Lensa Pembacaan.†Forum Biblika: Jurnal Ilmiah Populer, 21: 34-49.
Marshall, I.H. 2007. Acts. Surabaya: Momentum.
Mieu, W.C.J. 2014. “Merajut Manajemen Konflik†dalam Multikulturalisme: Kekayaan dan Tantangannya di Indonesia, ed. A. Eddy Kristiyanto dan William Chang. Jakarta: Komisi Teologi KWI-Penerbit Obor.
Napel, H.T. 2005. Kamus Teologi Inggris-Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Nainggolan, Rahmat Hasudungan, 2018. “Pengaruh Cara Hidup Jemaat Mula-mula Berdasarkan Kisah Para Rasul 2:41-47 dan Relevansinya Pada Masa Kini.†Jurnal Pneustos, 1 (1): 90-108.
Prior, John Mansford. 2010. Menjebol Jeruji Prasangka: Membaca Alkitab Dengan Jiwa. Maumere: Ledalero.
Rusdiana, H.A, 2015. Manajemen Konflik. Bandung: Pustaka Setia
Sanderan, Rannu. 2015. “Skisma Dalam Gereja Protestan, Warisan Yang Dapat Ditolak†Jurnal Paria 2: 101-113.
Sarioa, Agustina B. 2014. Manajemen Konflik Dalam Gereja: Tinjauan Terhadap Suatu Resolusi Konflik Dari Perspektif Teori Mediasi, Tesis Magister Manajemen UKSW, 2014: 54-60 http://repository.uksw.edu/handle/123456789/6113
Sihombing, L. 2015. “Isu Etika Sosial Dalam Gereja Yang Mula-mula†Jurnal Amanat Agung, 11 (1):169-179.
Singgih, E.G. 2009. Dua Konteks: Tafsir-tafisr Perjanjian Lama sebagai Respons atas Perja-lanan Reformasi di Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Singgih, E.G. 2016. “Masa Depan Membaca dan Menafsir Alkitab di Indonesia†dalam Teo-logi Yang Membebaskan dan Membebaskan Teologi, Wahyu S. Wibowo dan Robert Se-tio, ed. Yogyakarta: Yayasan TPK Indonesia-Fakultas Teologi UKDW.
Sutoyo, Daniel, 2014. “Gaya Hidup Gereja Mula-mula Yang Disukai Dalam Kisah Para Rasul 2:42-47 Bagi Gereja Masa Kini.†Jurnal Antusias, 3 (6): 1-31.
Tanhidy, Jamin. 2014. “Makna Makan Dalam Perspektif Alkitab: Suatu Refleksi Bagi Pelaku Wisata Kuliner†Jurnal Simpson: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, 1 (1):121-130.
Thiessen, G. 2005. Gerakan Yesus; Sebuah Pemaha-man Sosiologis Tentang Jemaat Kristen Perdana. Maumere: Ledalero.
Yang, L.K. 2007. “Gereja Mula-mula: Renungan Atas Kisah Para Rasul 2:41-47†dalam Menghayati Kalam Dalam Hening: Kumpulan Karangan terpilih Liem Khiem Yang, editor. Martin L. Sinaga. Jakarta: LAI.




5.jpg)
